Jawaban yang tak terduga

Published Oktober 16, 2009 by rheavashti

Satu minggu ini, gadis kecilku sedang gemar sekali meminjam buku diperpustakaan sekolahnya.

Setiap hari dia membawa 1 buah buku, dan satu hari itu dia tenggelam dalam bacaannya. Yaa memang pada dasarnya icha gemar membaca, kegemaran membaca ini memang kami pupuk sejak dini…bukan hanya mengajarkan icha membaca sejak kecil, kami pun mengajarkan dan mencontohkan icha untuk senang membaca, mencintai buku sejak kecil.

Dulu setiap weekend kami sempatkan untuk mengunjungi perpustakaan, atau main-main ketoko buku, icha pun jadi anggota perpustakaan wilayah di Semarang. Setiap ada pameran buku di Semarang, kami tidak pernah melewatkannya….selalu menyempatkan waktu untuk datang ke pameran buku tersebut.

Namun seiring bertambahnya usia dan bertambahnya kegiatan ayah dan ibunya, kebiasaan itu agak memudar sekarang, tapi kami tetap berusaha memenuhi kebutuhan icha yang haus bacaan dengan berlangganan 2 buah majalah yang menurut kami cukup bagus dan mendidik isinya, sesekali kami masih mengunjungi toko buku dan membelikannya buku yang bermanfaat.

Namun ada satu kebiasaan icha yang membuatku terharu yaitu meminta aku membacakan isi buku yang dia pinjam disekolah dengan gayaku….icha suka sekali mendengar aku membacakan cerita tersebut lewat versiku sendiri.

Memandang wajahnya yang sumringah dan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya apalagi binar matanya saat mendengarkan aku membacakan kembali isi buku cerita tersebut membuat hati ini rasanya membuncah bangga….

Dua hari ini icha membawa buku novel….bukunya yang agak tebal membuat aku tak sempat membaca buku tersebut sampai tuntas…karena buku tersebut hanya boleh dipinjam 1 hari dan icha harus menyelesaikan buku itu 1 hari agar tidak kena denda.

Satu bab sempat aku baca dari buku yang dia pinjam tersebut, yang menceritakan penyesalan seorang ibu karena bersikap tidak baik kepada anaknya.

Terbetik satu pertanyaan dalam hatiku….aah aku akan menanyakan langsung kepada icha …

“ Cha…ibu ini, ibu yang baik gak, menurut icha?”

Awalnya icha tidak menjawab…lama dia terdiam, kemudian bertanya kepada ayahnya

“ gimana ayah? Ibu icha baik ngga?”

“Lho khan yang ditanya icha…masak ayah yang jawab?”

lama ku tunggu jawabannya…akhirnya….hmmm sungguh jawaban yg tidak kuharapkan.

“Ibu sekarang suka marah dan jarang tersenyum…baik-sih baik tapi akhir-akhir ini ibu suka marah”

“ Icha khan sedih kalau ibu marah, ibu juga ngomong nya kenceng-kenceng kalau marah”

Duuuh perih nya hati ini, apalagi icha berkata demikian dilanjutkan dengan linangan air mata dan muka yang memerah…

Ku raih dia dalam perlukanku, kupangku dan kujelaskan kenapa aku marah

“Icha tahu kan, sebenarnya ibu gak suka marah, khan bisa cepet tua, tapi icha kalau ibu bilang baik-baik tidak mau mendengarkan jadinya ibu jengkel dan marah ke icha…”

“Ibu marah ke icha karena icha salah dan tidak mau diberitahu baik-baik “

“Tapi kalau ibu marah, icha khan sedih bu…icha sedih banget”

“ Maafin ibu ya cha…ibu janji ngga akan suka marah lagi sama icha…tapi icha juga janji harus mendengarkan kalau diberitahu ibu….”

“ Icha memaafkan ibu ngga?”

“huu…huu…huuu iya bu, icha juga minta maaf tidak patuh sama ibu…”

“Mulai sekarang kita berdua berjanji yaa…supaya lebih sabar lagi dan mau mendengarkan kalau diberitahu”

“ Iya bu…icha janji”

“ibu juga janji sayang…” *cup* ku kecup keningnya lembut dan memeluknya erat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: