Selamat jalan sayang…

Published Januari 8, 2011 by rheavashti

malam itu tepatnya pukul setengah satu, terdengar suara ketukan di pintu rumahku…
sedikit kaget, aku bergegas membukakan pintu, setelah sebelumnya mengintip dari balik jendela, siapa gerangan yang bertamu ditengah malam buta?
untunglah malam itu aku dan suamiku tidur larut, kami sedang bercengkrama berbincang-bincang sampai kantuk datang.
Ternyata seorang bapak tua, dia tetangga baikku… akupun membukakan pintu untuknya, sang bapak memohon maaf karena telah mengganggu, tapi beliau
mengabarkan berita duka cita, seorang anak tetangga kami meninggal dunia…Innalillahi, kataku kaget mendengar kabar itu..segera kuucapkan
terimakasih kepada beliau dan menutup pintu, hatiku berduka…
Ya Alloh, sedari kemarin kami( aku dan suamiku) berencana menengok anak itu dirumahsakit, ini kali kedua anak tersebut masuk rumah sakit pasca operasi
yang dilalui, pengangkatan tumor ganas dijantungnya…Robbi, hatiku terasa teriris mengapa hari itu kami menundanya? dan penundaan itu disebabkan
suatu hal yang tidak terlalu penting.Ya..Alloh ampuni aku tidak bersegera melakukan hal yang seharusnya.
Setelah mendengar kabar itu, suamikupun bergegas kerumah anak tersebut…sementara dirumah aku tidak dapat memejamkan mata, masih ada sisa penyesalan dihatiku
air mata tertumpah disela-sela do’aku…anak itu begitu manis,lucu dan pintar.
Selepas subuh, aku bergegas menuju kerumah si anak…ku peluk dan kukuatkan hati sang ibu, beruntunglah air mataku telah kutumpahkan tadi malam
sehingga aku bisa tidak menangis dihadapan sang ibu.
Berdua suamiku, kami memotong kain kafan, dan melakukan persiapan untuk memandikan anak itu . Dalam diam kami mengerjakan semua itu, masih tak percaya
dengan hal yang telah terjadi….
Robbi..Engkau-lah yang Maha Kuasa, tiada daya upaya kami melainkan atas seizin-Mu.
“Ust..Ust.. aku mau nulis”, begitulah suaranya masih terngiang ditelingaku, saat dia belajar mengaji dirumahku.Begitu bersemangatnya menulis dan membaca
“Ust santi..ust santi, aku mau dibeliin sepeda” demikian celotehnya kepadaku dilain waktu..
Dengan dipangku sang Ayah, dan dipandangi sang ibu, aku bersihkan dan ku keringkan badannya sesaat setelah dimandikan..tak bisa kubayangkan perasaan
sang ayah dan ibundanya, sedangkan  aku saja demikian susah menahan airmata..
lipatan kain kafan sudah dirapikan, ikatan sudah dikencangkan…engkau sudah berbalut kain kafan nak…siap menuju tempat terakhirmu
selamat jalan sayang….kenangan akan dirimu selalu ada dalam hati kami..
Sekali lagi , orang  disekelilingku pergi ke haribaan-Nya, dan entah kapan aku pun akan mendapat giliran selanjutnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: